symbol n referent
05.32
Symbol and referent
These terms may clarify
the subject. A symbol is something which we use to represent another thing - it
might be a picture, a letter, a spoken or written word - anything we use
conventionally for the purpose. The thing that the symbol identifies is the
referent. This may sometimes be an object in the physical world (the word Rover
is the symbol; a real dog is the referent). But it may be something which is
not at all, or not obviously, present - like freedom, unicorns or Hamlet.
A referent /ˈrɛfərənt/ is a person or thing to which a linguistic
expression or other symbol refers. For example, in the sentence Mary saw me, the
referent of the word Mary is the particular person called Mary who is being
spoken of, while the referent of the word me is the person uttering the
sentence.
Two
expressions which have the same referent are said to be co-referential.
In the sentence John had his dog with him, for instance, the noun John and the pronoun him are
co-referential, since they both refer to the same person (John).
In semantics
The triangle of reference, from Ogden and
Richards' The Meaning of Meaning.
In fields such as semantics
and semiotics,
a distinction is made between a referent and a reference.
Reference is a relationship in which a symbol or sign (a word, for
example) signifies something; the referent is the thing signified. The referent
may be an actual person or object, or may be something more abstract, such as a
set of actions.[3][4]
Reference
and referents were considered at length in the 1923 book The Meaning of Meaning by the Cambridge scholars C. K.
Ogden and I. A. Richards. Ogden
has pointed out that reference is a psychological process, and that referents
themselves may be psychological – existing in the imagination of the referrer,
and not necessarily in the real world.[5] For
further ideas related to this observation, see absent
referent and failure to refer.
Symbol merupakan unsur linguistik berupa kata, kalimat, dan sebagainya;
yang menunjuk kepada nenda, situasi, peristiwa, dan sebagainya. Dalam kalimat
“Ini bagus”. Hanya kata “Ini” merupakan satu symbol jika kata “ini” merujuk ke
suatu benda, situasi, peristiwa, misalnya sebuah buku, sebuah baju, dan
sebagainya. Kata “bagus” tidak memiliki fungsi simbolik karena kata “bagus”
hanya melayani ungkapan sikap. Bagi Richards dan Ogden kata-kata yang
menyatakan perasaan, sikap, harapan, impian, dan sebagainya tidak termasuk
dalam pengertian symbol. Kata-kata tersebut (yang menyatakan perasaan, sikap,
harapan, impian, dan sebagainya) dikelompokkan ke dalam “bahasa emotif”.
Bahasa simbolik yang didefinisikan oleh Richards dan Ogden ialah bahasa
yang sesuai dengan fakta atau bahasa kefaktaan. Sedangkan, bahasa emotif
memiliki kegunaan dalam proses komunikasi untuk membangkitkan sikap yang
diharapkan dari orang lain atau untuk mendorong orang lain bertindak dan
sebagainya.
Referent adalah objek atau
sesuatu yang berada di luar bahasa. Jika kita menggunakan symbol maka kita
merujuk kepada referent. Sebagaimana yang dikutip oleh Parera (1990: 43)
Richards dan Ogden menyatakan adalah penting untuk menemukan referent agar
diketahui apakah suatu reference benar atau tidak. Dan jika reference benar,
maka ia merujuk kepada fakta (if a reference “hangs together” in the way the
actual referent hangs together, the reference is true and refers to a fact).
Reference merupakan konsep atau ide. Pada gambar diatas, antara symbol dan
referent tidak berhubungan langsung dengan ditandai garis berputus-putus
(antara bahasa dan luar bahasa). Hubungannya melalui pikiran atau reference.
Chaer dan bukunya ‘Pengantar:
Semantik Bahasa Indonesia ‘ (1995) – beliau menggunakan kata ‘kata’ untuk
symbol, kata ‘makna’ atau ‘konsep’ untuk reference dan ‘sesuatu yang dirujuk
atau referen’ untuk referent –mengungkapkan bahwa hubungan antara kata (symbol)
dengan makna atau konsep (reference)nya adalah bersifat langsung. Begitu juga
hubungan anatara makna/konsep (reference) itu dengan referent juga bersifat
langsung.; tetapi hubungan antara kata (symbol) dengan referent (sesuatu yang
dirujuk) tidak bersifat langsung. Dengan demikian, dalam dalam gambar di atas
hubungan antara (symbol) dengan referent-nya ditandai dengan garis putus-putus.
Hubungan antara kata (symbol) dengan makna (reference)nya bersifat
arbriter, artinya, tidak ada hubungan wajib antara deretan fonem pembentuk kata
itu dengan maknanya. Namun, hubungan bersifat konvensional. Artinya, disepakati
oleh setiap anggota masyarakat suatu bahasa untuk mematuhi hubungan itu; sebab
kalau tidak, komunikasi verbal yang dilakukan akan mendapat hambatan.
referns :
https://en.wikipedia.org/wiki/Referent
http://literarydevices.net/euphemism/
referns :
https://en.wikipedia.org/wiki/Referent
http://literarydevices.net/euphemism/
0 komentar